Asal Usul Legenda Putri Mandalika Lombok

Di tengah gembar-gembor Mandalika sebagai destinasi wisata super prioritas di Indonesia dan tempat ajang balap motor bergengsi dunia Moto GP, rupanya tempat ini juga memiliki asal usul legenda Putri Mandalika. Kisah tersebut sudah lama diceritakan turun temurun antargenerasi di Lombok.

Berkat kisah inilah, muncul tradisi Suku Sasak bernama Bau Nyale dan menjadi salah satu festival budaya terbesar di Lombok. Bila Sweet Couple hendak wisata ke Lombok, maka jangan lewatkan perhelatan ini karena benar-benar meriah.

Kira-kira seperti apa sih kisahnya? Yuk langsung saja simak asal usul legenda Putri Mandalika berikut ini!

JADI CONTENT CREATOR SWEETRIP DAN RASAKAN MANFAATNYA
GABUNG

Artikel Terkait:

Putri Mandalika Anak Raja Tonjeng Beru dan Dewi Seranting

Alkisah, pada zaman dahulu di Lombok terdapat sebuah kerajaan bernama Sekar Kuning. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Panji Kusuma atau akrab dikenal sebagai Raja Tonjeng Baru.

Kerajaan Sekar Kuning sungguh beruntung karena memiliki pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana. Alhasil seluruh rakyat hidup dengan aman, damai, makmur, dan tentram. Raja begitu dicintai oleh rakyatnya.

Baca Juga :  5 Pembalap MotoGP Mandalika 2022 Favorit Netizen

Tak hanya itu, Raja Tonjeng Beru dan Dewi Seranting dikaruniai seorang anak perempuan. Anak tersebut bernama Putri Mandalika. Ia adalah anak yang cerdas, berbudi luhur, berbakti, dan dicintai oleh kedua orang tua maupun rakyat. Ditambah lagi dengan parasnya yang cantik memukau semakin menambah pesonanya.

Kecantikan Putri Mandalika Tersohor dan Banyak yang Hendak Meminangnya

Seiring berjalannya waktu, Putri Mandalika pun tumbuh dewasa. Ia menjelma jadi seorang gadis. Parasnya tetap cantik, bahkan semakin cantik. Hal ini membuat pesona kecantikannya tersohor ke seluruh negeri.

Banyak pemuda dan pria yang hendak meminangnya untuk dijadikan istri. Semua berbondong-bondong datang ke kerajaan dan bersaing demi mendapatkan hati sang putri.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di benak Raja Tonjeng Beru. Ia khawatir jika semakin banyak pria yang datang maka akan menimbulkan persaingan dan pertumpahan darah. Ia tak ingin rakyat terpecah belah hanya karena soal cinta, apalagi ini anaknya sendiri, Putri Mandalika yang sangat ia kasihi.

Putri Mandalika Melakukan Meditasi dan Menenangkan Diri

Walau demikian, raja tak ingin membatasi Putri Mandalika. Ia tetap mengizinkan putrinya memilih pria sesuai dengan keinginannya. Ia tak ingin mengintervensi pilihan anaknya.

Baca Juga :  7 Tempat Wisata dekat Sirkuit Mandalika Lombok

Namun, rupanya Putri tidak langsung serta merta memilih calon pendampingnya. Ia memutuskan untuk pergi menjauh ke suatu tempat. Di tempat tersebut, ia melakukan meditasi atau semedi sekaligus menenangkan diri. Ia meminta petunjuk dari Tuhan tentang lamaran-lamaran pria yang datang silih berganti.

Usai bersemedi, Putri Mandalika pun kembali. Kemudian, ia membuat sebuah pengumuman. Pada penanggalan Suku Sasak tanggal 20 bulan 10, seluruh pria yang ingin melamarnya untuk berkumpul di Pantai Seger sebelum fajar menyingsing.

Putri Mandalika Menceburkan Diri ke Laut dan Menjelma jadi Nyale

Segeralah seluruh pria yang hendak meminangnya pergi ke Pantai Seger. Di situ, sudah hadir pula Putri Mandalika beserta para pengawalnya. Raja Tonjeng Beru dan Dewi Seranting pun turut hadir pula di tempat tersebut.

Sesudah semuanya berkumpul, Putri Mandalika pun menyampaikan keputusannya. Ia memutuskan untuk menerima seluruh lamaran pria tersebut. Ia tak ingin ada pertumpahan darah hanya karena bersaing mendapatkan dirinya.

Kemudian, sang putri pun berlari ke arah laut dan menceburkan diri ke laut. Ia pun hanyut ditelan ombak. Sontak, seluruh orang yang hadir di Pantai Seger pun terkejut. Semua beramai-ramai lompat ke laut untuk menolong sang putri. Sayangnya, jejak Putri Mandalika tak ditemukan sama sekali.

Baca Juga :  Inilah 5 Fakta Sirkuit Mandalika Lombok

Tiba-tiba saja, muncullah sekumpulan cacing laut beragam warna dalam jumlah yang sangat banyak. Cacing-cacing tersebut keluar dari dalam laut dan langsung menyerbu kawasan pantai. Hal ini membuat seluruh orang takjub. Mereka percaya bahwa cacing tersebut adalah jelmaan dari Putri Mandalika yang terjun ke laut.

Cacing-cacing warna-warni tersebut diberi nama Nyale, yang berarti cacing di lubang batu karang bawah permukaan laut. Hingga saat ini, masyarakat Lombok masih terus melestarikan tradisi menangkap cacing ini karena dipercaya sebagai pertanda baik. Tradisi ini dikenal dengan Tradisi Bau Nyale.

Itulah kisah asal usul legenda Putri Mandalika Lombok yang terkenal itu. Tragis memang, tetapi pengorbanan sang putri yang tak ingin melihat pertikaian patut kita acungi jempol. Sebagai manusia, kita memang harus mengutamakan kedamaian dan keamanan agar hidup lebih indah.

Di samping itu, kisah ini menjadi salah satu tradisi Suku Sasak Lombok yang perlu dilestarikan. Kisah ini semakin menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan wisata Mandalika Lombok.

Yuk nikmati wisata Lombok dan Mandalika!

Ingin membaca artikel kami yang lainnya? Download aplikasi Sweetrip Indonesia dengan klik di sini

Artikel disadur dari liputan6.com